Ahad, Disember 30, 2007

MEMANFAATKAN SUMBER ENERGI

MEMANFAATKAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF UNTUK PENINGKATAN TARAF HIDUP 31-Dec-2005 Rendahnya akses energi di banyak daerah di Ind... thumbnail 1 summary
MEMANFAATKAN SUMBER ENERGI ALTERNATIF
UNTUK
PENINGKATAN TARAF HIDUP
31-Dec-2005

Rendahnya akses energi di banyak daerah di Indonesia menjadi salah satu permasalahan yang harus dipecahkan untuk mengangkat masyarakat dari kemiskinan. Ketersediaan energi yang merata dan murah dapat membuka jalan menuju masyarakat yang lebih sejahtera.
Kekayaan sumber daya alam dengan potensinya yang besar yang dapat diolah dan menghasilkan energi sering diabaikan. Peningkatan kuantitas dan kualitas penyediaan energi harus dipandang tidak hanya semata-mata memberikan tambahan kenyamanan dan perbaikan kualitas hidup, tetapi juga sebagai peluang besar untuk menumbuhkan kegiatan ekonomi masyarakat.

KEMISKINAN DAN ENERGI

Ketersediaan energi memang jarang diangkat sebagai isu penting dalam penanggulangan kemiskinan. Namun dengan melihat kehidupan masyarakat miskin akan tampak secara nyata bagaimana kemudahan mendapatkan energi, baik dalam bentuk listrik maupun bahan energi lainnya, dapat meningkatkan taraf hidup mereka.

Bahan Bakar
Kebanyakan rakyat miskin, khususnya yang tinggal di perdesaan, masih bergantung pada kayu bakar sebagai sumber utama energi untuk mendukung kehidupan rumah tangga maupun kegiatan perekonomiannya. Untuk memperoleh kayu bakar, terutama untuk kegiatan memasak, jarak yang ditempuh dan waktu yang dibutuhkan relatif panjang. Pada umumnya kegiatan ini dilakukan oleh perempuan dan anak-anak yang masih dianggap tidak mampu melakukan kegiatan yang menambah penghasilan keluarga. Apabila tenaga yang dipakai untuk mendapatkan kayu bakar dimanfaatkan untuk kegiatan produktif, maka pandapatan masyarakat akan meningkat.
Tenaga Listrik

Setidaknya ada dua manfaat utama yang secara langsung diperoleh dari tersedianya listrik bagi rumah tangga maupun usaha kecil untuk mengangkat kehidupan masyarakat miskin. Adanya penerangan di malam hari menjamin kegiatan ekonomi dapat berlangsung dalam waktu lebih panjang, sehingga secara langsung meningkatkan pendapatan masyarakat. Kemudian listrik juga memperluas akses masyarakat terhadap informasi, misalnya melalui televisi dan proses belajar di malam hari. Lebih luas lagi, listrik akan mendukung penyediaan layanan kesehatan, pendidikan, dan air bersih yang berkesinambungan dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat miskin.

PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM
PENGEMBANGAN ENERGIALTERNATIF

Dalam beberapa tahun terakhir, solusi permasalahan energi dicari dengan cara semaksimal mungkin menggunakan potensi lokal yang tidak menunggu dan bergantung pada suplai BBM dari Pertamina dan listrik dari PLN. Kunci keberhasilan pemanfaatan energi alternatif dengan melibatkan potensi lokal adalah dengan memberikan pilihan kepada masyarakat dan melakukan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat harus dilibatkan sejak dini, mulai dari proses perencanaan dan disiapkan dengan matang untuk bertindak sebagai pemilik, pengelola, sekaligus pengguna yang bertanggung jawab.
Keuntungan dari mengembangkan pemanfaatan energi alternatif adalah adanya peluang untuk menciptakan kegiatan ekonomi produktif baru yang secara langsung memberikan penghasilan tambahan bagi masyarakat. Peluang ini bisa dalam bentuk usaha penyediaan energi yang dikelola sedemikian rupa dan keuntungannya digunakan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, atau untuk membuka usaha kecil dan dengan kreatif memanfaatkan sumber energi baru yang tersedia.
Salah satu pilihan untuk meningkatkan penerimaan aliran listrik di perdesaan adalah memanfaatkan tenaga aliran air yang dikonversi menjadi listrik. Salah satu contohnya adalah Proyekpembangkit listrik Cinta Mekar di Subang, Jawa Barat, yang dibangun oleh Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) bersama Hidropiranti Inti Bhakti Swadaya, yang didukung oleh United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (UNESCAP). Proyek ini dikembangkan dengan konsep kemitraan swasta untuk masyarakat miskin.
Memang masyarakat masih menerima hibah dalam jumlah besar dalam program ini. Namun, skema pengelolaan yang sepenuhnya diserahkan kepada masyarakat patut dijadikan contoh bagaimana usaha penyediaan energi mampu secara bersamaan memberi manfaat dari ketersediaan sambungan listrik dan keuntungan ekonomi bagi masyarakat di daerah tersebut.
Kepemilikan masyarakat terhadap pembangkit listrik tersebut diwujudkan melalui koperasi. Harga jual listrik yang harus dibayar masyarakat ditentukan oleh koperasi, dan pendapatan bersih bulanan koperasi dikembalikan kepada masyarakat dengan skala prioritas yang ditetapkan oleh mereka sendiri. Pada awalpengoperasiannya, pendapatan koperasi sebagian besar digunakanuntuk memberikan sambungan listrik pada mereka yang belum mampu membayar. Sisanya disumbangkan untuk peningkatan fasilitas pendidikan dan kesehatan, serta untuk pembangunan infrastruktur desa dan modal usaha masyarakat.
Selang beberapa waktu setelah seluruh rumah telah tersambung listrik, pendapatan koperasi sepenuhnya dialihkan untuk membantu masyarakat miskin dengan sistem yang diciptakan masyarakat sendiri. Untuk keadilan dalam pembagian pendapatan ini, mereka mengelompokkan setiap keluarga berdasarkan klasifikasi bertingkat. Faktor yang digunakan untuk menentukan tingkat kemiskinan di antaranya adalah:
(i) mempunyai pekerjaan tetap;
(ii) kepemilikan tanah;
(iii) kepemilikan rumah tinggal; dan
(iv) tingkat pendidikan.

PENUTUP

Energi sering tidak dipandang sebagai kebutuhan mendasar masyarakat yang bisa mendorong meningkatnya kualitas hidup. Penyediaan energi bagi masyarakat miskin sebisa mungkin menggunakan energi alternatif ramah lingkungan yang didapat secara lokal dan dilakukan dengan pola dasar partisipasi sehinggakeberlanjutannya dapat terjaga. Sebaliknya, bukan tidak mungkinusaha peningkatan aksesibilitas energi yang tidak tepat akanmembawa masyarakat miskin semakin terpuruk dalam jurang kemiskinan.
Nyoman Iswarayoga, Manajer Program Energi, Transportasi, danKualitas Udara, Yayasan Pelangi Indonesia.
Source: SMERU Newsletter No. 16: Oct-Dec

Tiada ulasan