Jumaat, Disember 21, 2007

Microhidro kini Tenaga Surya

UMM Kurangi Ketergantungan Penerangan PLN , Setelah Microhidro kini Tenaga Surya Wednesday, 19 December 2007 Universitas Muhammadiya... thumbnail 1 summary

UMM Kurangi Ketergantungan Penerangan PLN , Setelah Microhidro kini Tenaga Surya


Wednesday, 19 December 2007

Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) mengurangi ketergantungan terhadap PLN dengan mengembangkan sumber energi listrik. Cara itu dilakukan dengan pembuatan microhidro, yakni pembangkit tenaga listrik dengan mengandalkan aliran Sungai Brantas serta memanfaatkan pembangkit listrik tenaga matahari. Malang, Jika melihat kemegahan kampus UMM semua mata akan terkagum-kagum memandangnya. Apalagi kalau menyempatkan diri mengitari kampus III UMM yang berada di Tegalgondo pada malam hari. Kesan megah penuh dengan pendaran cahaya berwarna-warni membuat kampus putih itu semakin sedap dipandang mata. Kalau melongok lebih dalam lagi ke gedung kuliah bersamanya, akan didapatkan fasilitas lift yang beroperasi 24 jam disetiap gedung kuliah bersama. Disetiap sudut ruang kuliah juga terdapat CCTV yang terhubung langsung ke pusat ruang control langsung. Para mahasiswa seakan tidak kenal waktu nongkrong diberanda kampus mereka. Karena gedung didekat kolam yang menghubungkan ruang kuliah bersama dengan jalan menuju rektorat UMM menyediakan aliran listrik untuk menyalakan laptop plus dengan fasilitas hot spot-nya. “Kelengkapan fasilitas UMM ini memiliki konsekuensi yang cukup tinggi, salah satunya membengkaknya tagihan listrik,” papar Ir Suwignyo MT, dosen Fakultas Teknik UMM, Selasa (18/12).Sedikitnya UMM harus menganggarkan dana Rp 80 juta per bulan hanya untuk tagihan PLN atas pemakaian listriknya yang cukup besar. Penggunaan listrik yang sangat besar ini yang menginspirasi Suwignyo mengembangkan energi listrik dari sumber selain PLN. Salah satunya dengan pembuatan microhidro yang saat ini sedang dibangun bendungan dan rumah turbinnya sebagai alat mengubah energi aliran air Sungai Brantas menjadi energi listrik. “Pembangunan ini sudah lancar dan 27 Desember mendatang akan segera kami launching dan mampu menghasilkan 100.000 watt listrik,” ungkap Suwignyo.UMM juga mulai mengembangkan sumber energi listrik dari media lainnya. Keinginan itu sangat beralasan karena setiap hari membutuhkan energi listrik sekitar 350.000 -400.000 watt, sementara microhidro baru memenuhi sepertiga dari kebutuhan UMM. “Teriknya matahari membuat kami berpikir akan mampu memanfaatkannya. Ini membuat kami mulai membuat plat penampung panas matahari,” beber Ketua pengembangan pembangkit listrik microhidro dan tenaga surya.Saat ini di sekitar heliped maupun di depan rektorat UMM mulai dipasang lampu jalan yang di puncaknya terdapat plat lepeng putih yang mampu untuk penyerap panas. “Plat putih itu memang sengaja diletakkan di ketinggian sehingga mampu menyerap panas lebih cepat tanpa terganggu vegetasi di sekelilingnya,” jelasnya.Cara kerjanya panas yang diambil dari penyinaran surya akan disimpan didalam baterai. Dengan penyinaran yang penuh sepanjang hari, maka baterai bisa terisi penuh dan mampu menghidupkan lampu 40 watt selama 12 jam. Rencananya lampu tenaga surya ini akan dipasang sebanyak 13 unit, namun saat ini yang baru beroperasi hanya tujuh unit. “Kedepannya kami akan mencoba memanfaatkan biogas untuk pembangkit listrik yang baru. Sehingga kami mampu memperbaharui sumber energi yang sudah ada di alam sebagai energi yang dapat diperbaharui,” tandasnya./Renni Susilawati

Tiada ulasan