Isnin, Mac 04, 2013

Hydro Power, Energi Listrik untuk Negeri Maritim

Hydro power   merujuk kepada teknologi yang mengubah air menjadi energi listrik. Sebagai salah satu aplikasi dari   green technology ,   ... thumbnail 1 summary
Hydro power merujuk kepada teknologi yang mengubah air menjadi energi listrik. Sebagai salah satu aplikasi dari green technology, hydro power menghasilkan sedikit pencemaran dibandingkan dengan teknologi pembangkit lainnya. Prinsip teknologi ini adalah menggunakan energi kinetik dari arus air untuk memutar turbin yang nantinya akan diubah menjadi energi listrik. Hydro power dibagi menjadi 4 kategori, yaitu conventional hydroelectric, run-of-the-river hydroelectricity, small hydro projects, micro hydro projects, dan pumped-storage hydroelectricity. Conventional hydroelectric merupakan teknologi hydro power yang menggunakan DAM seperti Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Berbeda dengan Conventional hydroelectric, run-of-the-river hydroelectricitymengubah energi kinetik sungai tanpa membuat DAM. KategoriSmall hydro projectsuntuk pembangkit dengan kapasitas 10 MegaWatt, micro hydro projectsuntuk pembangkit berkapasitas beberapa KiloWatt, sedangkanpumped-storage hydroelectricityhanya digunakan saat energi listrik benar-benar dibutuhkan.
Hydropower Plan
Diolah dari Tabel Kapasitas Terpasang (MW) Perusahaan Listrik Negara (PLN) menurut Jenis Pembangkit Listrik 1995-2011. Sumber: bps.go.id
Di Indonesia, conventional hydroelectric dan micro hydro project sudah diterapkan. Namun, penerapannya masih sangat minim. Berdasarkan tabel di samping, hanya 11% energi listrik dalam negeri dipasok dari tenaga air. Padahal, pembangkit listrik tenaga uap, gas, uap gas, dan diesel merupakan pembangkit yang menggunakan pembakaran bahan bakar minyak, batubara, dan gas sebagai penggerak turbin generatornya yang menghasilkan banyak gas karbon yang menjadi penyebab utama pemanasan global.
Berikut beberapa alasan mengapa teknologi hydro power dapat diterapkan di Indonesia. Pertama, Indonesia memiliki banyak sungai yang berpotensi untuk dijadikan pembangkit listrik. Dengan menerapkan conventional hydroelectric, run-of-the-river hydroelectricity atau small hydro projects, sungai-sungai di Indonesia dapat dijadikan sumber energi listrik yang ramah lingkungan. Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Dirut PLN Indonesia FahmiMochtar dalam alpensteel.com, Indonesia memiliki potensi PLTA sebesar 70,000 MegaWatt. Menurut beliau, hanya 6%-nya saja yang sudah dimanfaatkan. Sangat disayangkan jika potensi tersebut tidak dimanfaatkan dengan optimal. Padahal, sungai-sungai besar di Indonesia jumlahnya cukup banyak.
Kedua, perairan laut di Indonesia menyimpan potensi energi listrik yang sangat besar. Berdasarkan riset yang dikembangkan oleh BPPT, selat-selat di NTB dan NTT diperkirakan dapat menghasilkan listrik sebesar 3000MW. Dengan memanfaatkan teknologi Pembangkit Listrik Tenaga Air laut (PLTAL), derasnya arus laut dapat diubah menjadi energi listrik. Teknologi tersebut sudah diterapkan di Norwegia. Sekitar 80% kebutuhan listrik negara tersebut dipasok dari PLTAL. Coba bayangkan, jika Norwegia saja mampu, bagaimana dengan Indonesia yang merupakan negara maritim? Jangankan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, untuk dijual ke negara tetangga pun masih mungkin.
irigasi
Gambar Saluran Irigasi. Sumber: blog.ub.ac.id
Ketiga, banyaknya desa-desa yang terisolasi listrik. Menurut Drs. Agus Salim M.Eng Direktur Teknologi Konversi dan Konversi Energi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dalam alpensteel.com, sekitar 48% atau 18 juta rumah di Indonesia belum dialiri listrik. Sebagai contoh, desa Bacu-Bacudi Makassar. Awalnya desa tersebut tidak dialiri listrik sedangkan pemerintah tidak begitu tanggap bahwa mereka sangat membutuhkan listrik.  Namun, sejak teknologi micro hydro project atau yang lebih dikenal dengan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) digunakan, kebutuhan listrik desa tersebut dapat terpenuhi. Dengan membendung sungai, memakai generator bekas, dan memanfaatkan pohon aren sebagai pipa penyalur air ke turbin, PLTMH tersebut mampu menghasilkan listrik sebesar 3kWh yang cukup untuk 1.500 orang yang tinggal disana. Dengan kapasitas 3kWh, warga dapat menonton TV, anak-anak dapat belajar di malam hari, dan bahkan beberapa warga menggunakan rice cooker.
Keempat, teknologi hydro power relatif tidak memakan banyak biaya. Menurut Rizal, Deputi Menko Bidang Kerja Sama Internasional dalam okezone.com, teknologi tenaga air (PLTAL) lebih murah dibandingkan teknologi tenaga panas bumi. Biaya investasi mungkin telihat sangat besar tetapi biaya perawatan justru relatif lebih murah. Sedangkan, untuk teknologi PLTMH pun demikian, dengan modal generator bekas dan kayu pohon aren, warga desa Bacu-Bacu Makassar dapat menikmati listrik murah dengan biaya perawatan hanya Rp20.000, – 30.000,-.
Kelima, teknologi hydro power dapat dipadukan dengan sistem irigasi. Konsep PLTMH hampir sama dengan PLTA karena sama-sama membendung aliran sungai. Aliran sungai yang telah melewati turbin dapat disalurkan ke sistem irigasi yang akan mengalir ke sawah atau kebun masyarakat. Dengan membendung air, volume air dapat dijaga sehingga sawah-sawah tidak akan kekurangan air saat musim kemarau. Selain itu, kepedulian masyarakat terhadap hutan akan semakin meningkat. Masyarakat akan menjaga kelestarian hutan yang merupakan sumber air.
Meskipun banyak alasan dan manfaat untuk mengembangkan dan memaksimalkan teknologi hydro power, pemerintah seakan memandang sebelah mata. Bukankah sebagai negara maritim dengan perairan yang luas, hal ini dapat menjadi titik cerah dari ketergantungan kita terhadap bahan bakar fosil. Ironisnya, tahun 2014 PT PLN berencana mengimpor LNG (Liquified Natural Gas) untuk mengatasi minimnya pasokan gas untuk pembangkit listriknya. Apakah kita akan terus menggunakan bahan bakar fosil sampai habis untuk beralih ke teknologi ini? Semuanya ada di tangan kita.
Penulis : Alfin Rhesa Affandi | http://gadgetan.com/