Rabu, Januari 23, 2008

Investasi Energi Terbarukan Naik Hingga 60 Persen

Di antara berita muram dan skeptis tentang perubahan iklim, sebuah laporan terbaru dari Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEP) memunculkan "... thumbnail 1 summary

Di antara berita muram dan skeptis tentang perubahan iklim, sebuah laporan terbaru dari Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEP) memunculkan "angin segar" tentang peluang menciptakan ekonomi rendah karbon. Sejak Protokol Kyoto disepakati pada tahun 1997, upaya menekan laju emisi gas rumah kaca terus dikembangkan, dan salah satunya dengan menggalakkan sumber-sumber energi dari bahan bakar yang terbarukan
"Sektor industri energi terbarukan kini bukan lagi cuma sebagai alternatif sumber energi, tapi sudah bergerak menjadi salah satu arus utama pengembangan energi dunia, yang juga sejalan dengan upaya mengurangi emisi," kata Virginia Sonntag-O`Brien dari UNEP, di Nusa Dua, Sabtu lalu seperti diberitakan Antara .Menurut dia, energi terbarukan sudah menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan dengan laju kenaikan di sektor investasi antara 15-60 persen tahun ini. Selama 2007, investasi dunia untuk energi terbarukan mencapai US$100 miliar. Ini termasuk US$66 miliar investasi pada peningkatan kapasitas, pembangunan hidropower, pengembangan olahan sinar matahari, dan dana riset di sektor publik dan swasta. Data laporan UNEP tahun 2007 menunjukkan bahwa sektor energi angin menjadi sektor yang mendapat investasi terbesar di antara jenis energi terbarukan yang lain.Pertumbuhan energi angin naik 25-30 persen tiap tahunnya, dan menghasilkan listrik lebih dari 90 gigawatt - ini 11 kali lebih besar daripada kondisi 1997. Di sektor pembangkit listrik tenaga sinar matahari, pertumbuhannya tercatat sebesar 50-60 persen dan sekarang berhasil menyalurkan daya 8 gigawatt listrik. Energi hidropower dan biomass tercatat menghasilkan masing-masing 73 gigawatt dan 44 gigawatt per tahun, sedangkan energi panas bumi menyumbang 10 gigawatt. Bila digabungkan, energi terbarukan kini sanggup menyumbang 240 gigawatt listrik dari total kapasitas produksi listrik dunia 4.300 gigawatt.
Sementara itu, Badan Energi Internasional mencermati tren investasi riset dan pengembangan di sektor energi terus menurun dari 1982-2006, sehingga tidak seimbang lagi dengan besaran dampak fenomena perubahan iklim. "Pengeluaran pemerintah untuk bidang riset energi terus berkurang, sementara sektor swasta terlalu fokus kepada proyek-proyek yang keuntungannya jangka pendek," kata Direktur Eksekutif IEA, Nobuo Tanaka, Selasa lalu. Ia menjelaskan, penelitian dan pengembangan sektor energi alokasi terbesarnya adalah untuk bidang nuklir, diikuti bahan bakar fosil, bahan bakar terbarukan, dan efisiensi energi. "Energi yang terkait dengan emisi CO2 telah bertumbuh lebih cepat ketimbang antisipasi awal kita, bahkan ketika harganya merangkak naik." Masalah perubahan iklim, masih kata pria asal Jepang itu, adalah kecepatan mengambil langkah, "Tidak ada waktu lagi untuk disia-siakan. Kita harus implementasi sekarang juga." IEA juga mencermati saat ini sumber energi batubara harus diupayakan bisa seminim mungkin menghasilkan emisi karbon, salah satunya dengan teknologi CCS ("carbon capture and storage"). Teknologi ini membuat karbon tidak dilepaskan ke atmosfer. "Kita juga harus berpikir bahwa sektor energi bukanlah bagian dari masalah, justru efisiensi dan pengembangan teknologi energi adalah solusi buat perubahan iklim," kata Nobuo menambahkan.
Nobuo juga mengatakan, dengan menghemat konsumsi energi, emisi gas rumah yang bisa dicegah. "Efisiensi energi adalah opsi mitigasi perubahan iklim yang paling mungkin dilakukan, dan biayanya juga paling murah,"kata Nobuo menjelaskan tiga keuntungan melakukan penghematan konsumsi energi. "Keuntungan tiga kali lipat bisa dirasakan lewat upaya efisiensi energi, pertama adalah peningkatan kinerja ekonomi karena ongkos energinya lebih rendah,"katanya. Lalu di fase kedua, keuntungan efisiensi energi adalah memperkuat faktor keamanan pasokan energi. Alasannya risiko untuk tergantung dengan sumber energi impor bisa ditekan. Keuntungan ketiga, efisiensi energi membuat lingkungan hidup setempat dan internasional bisa lebih rendah emisi karbonnya, menyesuaikan kebutuhan energi yang diturunkan volumenya. Untuk melakukan efisiensi energi, IEA memandang hambatan yang muncul hanyalah soal implementasi. "Hambatan kita ada tiga; implementasi, implementasi, dan implementasi. Karena memang kita cuma butuhkan implementasi yang konsisten untuk mencapai efisiensi energi yang optimal."
Thonthowi Dj


Sumber :
http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=EKSPLORASI&rbrk=Drilling&id=27133

Investasi Energi Terbarukan Naik Hingga 60 Persen

Di antara berita muram dan skeptis tentang perubahan iklim, sebuah laporan terbaru dari Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEP) memunculkan "... thumbnail 1 summary

Di antara berita muram dan skeptis tentang perubahan iklim, sebuah laporan terbaru dari Badan Lingkungan Hidup PBB (UNEP) memunculkan "angin segar" tentang peluang menciptakan ekonomi rendah karbon. Sejak Protokol Kyoto disepakati pada tahun 1997, upaya menekan laju emisi gas rumah kaca terus dikembangkan, dan salah satunya dengan menggalakkan sumber-sumber energi dari bahan bakar yang terbarukan
"Sektor industri energi terbarukan kini bukan lagi cuma sebagai alternatif sumber energi, tapi sudah bergerak menjadi salah satu arus utama pengembangan energi dunia, yang juga sejalan dengan upaya mengurangi emisi," kata Virginia Sonntag-O`Brien dari UNEP, di Nusa Dua, Sabtu lalu seperti diberitakan Antara .Menurut dia, energi terbarukan sudah menunjukkan pertumbuhan yang sangat signifikan dengan laju kenaikan di sektor investasi antara 15-60 persen tahun ini. Selama 2007, investasi dunia untuk energi terbarukan mencapai US$100 miliar. Ini termasuk US$66 miliar investasi pada peningkatan kapasitas, pembangunan hidropower, pengembangan olahan sinar matahari, dan dana riset di sektor publik dan swasta. Data laporan UNEP tahun 2007 menunjukkan bahwa sektor energi angin menjadi sektor yang mendapat investasi terbesar di antara jenis energi terbarukan yang lain.Pertumbuhan energi angin naik 25-30 persen tiap tahunnya, dan menghasilkan listrik lebih dari 90 gigawatt - ini 11 kali lebih besar daripada kondisi 1997. Di sektor pembangkit listrik tenaga sinar matahari, pertumbuhannya tercatat sebesar 50-60 persen dan sekarang berhasil menyalurkan daya 8 gigawatt listrik. Energi hidropower dan biomass tercatat menghasilkan masing-masing 73 gigawatt dan 44 gigawatt per tahun, sedangkan energi panas bumi menyumbang 10 gigawatt. Bila digabungkan, energi terbarukan kini sanggup menyumbang 240 gigawatt listrik dari total kapasitas produksi listrik dunia 4.300 gigawatt.
Sementara itu, Badan Energi Internasional mencermati tren investasi riset dan pengembangan di sektor energi terus menurun dari 1982-2006, sehingga tidak seimbang lagi dengan besaran dampak fenomena perubahan iklim. "Pengeluaran pemerintah untuk bidang riset energi terus berkurang, sementara sektor swasta terlalu fokus kepada proyek-proyek yang keuntungannya jangka pendek," kata Direktur Eksekutif IEA, Nobuo Tanaka, Selasa lalu. Ia menjelaskan, penelitian dan pengembangan sektor energi alokasi terbesarnya adalah untuk bidang nuklir, diikuti bahan bakar fosil, bahan bakar terbarukan, dan efisiensi energi. "Energi yang terkait dengan emisi CO2 telah bertumbuh lebih cepat ketimbang antisipasi awal kita, bahkan ketika harganya merangkak naik." Masalah perubahan iklim, masih kata pria asal Jepang itu, adalah kecepatan mengambil langkah, "Tidak ada waktu lagi untuk disia-siakan. Kita harus implementasi sekarang juga." IEA juga mencermati saat ini sumber energi batubara harus diupayakan bisa seminim mungkin menghasilkan emisi karbon, salah satunya dengan teknologi CCS ("carbon capture and storage"). Teknologi ini membuat karbon tidak dilepaskan ke atmosfer. "Kita juga harus berpikir bahwa sektor energi bukanlah bagian dari masalah, justru efisiensi dan pengembangan teknologi energi adalah solusi buat perubahan iklim," kata Nobuo menambahkan.
Nobuo juga mengatakan, dengan menghemat konsumsi energi, emisi gas rumah yang bisa dicegah. "Efisiensi energi adalah opsi mitigasi perubahan iklim yang paling mungkin dilakukan, dan biayanya juga paling murah,"kata Nobuo menjelaskan tiga keuntungan melakukan penghematan konsumsi energi. "Keuntungan tiga kali lipat bisa dirasakan lewat upaya efisiensi energi, pertama adalah peningkatan kinerja ekonomi karena ongkos energinya lebih rendah,"katanya. Lalu di fase kedua, keuntungan efisiensi energi adalah memperkuat faktor keamanan pasokan energi. Alasannya risiko untuk tergantung dengan sumber energi impor bisa ditekan. Keuntungan ketiga, efisiensi energi membuat lingkungan hidup setempat dan internasional bisa lebih rendah emisi karbonnya, menyesuaikan kebutuhan energi yang diturunkan volumenya. Untuk melakukan efisiensi energi, IEA memandang hambatan yang muncul hanyalah soal implementasi. "Hambatan kita ada tiga; implementasi, implementasi, dan implementasi. Karena memang kita cuma butuhkan implementasi yang konsisten untuk mencapai efisiensi energi yang optimal."
Thonthowi Dj


Sumber :
http://jurnalnasional.com/?med=Koran%20Harian&sec=EKSPLORASI&rbrk=Drilling&id=27133

Hydropower -- Energy from Moving Water

HYDROPOWER GENERATES Of the renewable energy sources that generate electricity, hydropower is the most often used. It accounted for 7 perce... thumbnail 1 summary
HYDROPOWER GENERATES

Of the renewable energy sources that generate electricity, hydropower is the most often used. It accounted for 7 percent of total U.S. electricity generation and 73 percent of generation from renewables in 2005.
It is one of the oldest sources of energy and was used thousands of years ago to turn a paddle wheel for purposes such as grinding grain. Our nation’s first industrial use of hydropower to generate electricity occurred in 1880, when 16 brush-arc lamps were powered using a water turbine at the Wolverine Chair Factory in Grand Rapids, Michigan. The first U.S. hydroelectric power plant opened on the Fox River near Appleton, Wisconsin, on September 30, 1882. Until that time, coal was the only fuel used to produce electricity. Because the source of hydropower is water, hydroelectric power plants must be located on a water source. Therefore, it wasn’t until the technology to transmit electricity over long distances was developed that hydropower became widely used.
Hydropower -- Energy from Moving Water

HYDROPOWER GENERATES ELECTRICITY

Of the renewable energy sources that generate electricity, hydropower is the most often used. It accounted for 7 percent of total U.S. electricity generation and 73 percent of generation from renewables in 2005.
It is one of the oldest sources of energy and was used thousands of years ago to turn a paddle wheel for purposes such as grinding grain. Our nation’s first industrial use of hydropower to generate electricity occurred in 1880, when 16 brush-arc lamps were powered using a water turbine at the Wolverine Chair Factory in Grand Rapids, Michigan. The first U.S. hydroelectric power plant opened on the Fox River near Appleton, Wisconsin, on September 30, 1882. Until that time, coal was the only fuel used to produce electricity. Because the source of hydropower is water, hydroelectric power plants must be located on a water source. Therefore, it wasn’t until the technology to transmit electricity over long distances was developed that hydropower became widely used.
HOW HYDROPOWER WORKS
Understanding the water cycle is important to understanding hydropower. In the water cycle -
Solar energy heats water on the surface, causing it to evaporate.
This water vapor condenses into clouds and falls back onto the surface as precipitation.
The water flows through rivers back into the oceans, where it can evaporate and begin the cycle over again.
Mechanical energy is derived by directing, harnessing, or channeling moving water. The amount of available energy in moving water is determined by its flow or fall.Swiftly flowing water in a big river, like the Columbia River The water flows from behind the dam through penstocks, turns the turbines, and causes the generators to generate electricity. The electricity is carried to users by a transmission line. Other water flows from behind the dam over spillways and into the river below." src="http://www.eia.doe.gov/kids/energyfacts/sources/renewable/images/HYDROPLANT1.gif" width=288 align=right>along the border between Oregon and Washington, carries a great deal of energy in its flow. So, too,with water descending rapidly from a very high point, like Niagara Falls in New York. In either instance, the water flows through a pipe, or penstock,then pushes against and turns blades in a turbine to spin a generator to produce electricity. In a run-of-the-river system, the force of the current applies the needed pressure, while in a storage system, water is accumulated in reservoirs created by dams, then released when the demand for electricity is high. Meanwhile, the reservoirs or lakes are used for boating and fishing, and often the rivers beyond the dams provide opportunities for whitewater rafting and kayaking. Hoover Dam, a hydroelectric facility completed in 1936 on the Colorado River between Arizona and Nevada, created Lake Mead, a 110-mile-long national recreational area that offers water sports and fishing in a desert setting
Sumber :

Sabtu, Januari 12, 2008

Energi masa depan - Nuklir atau Batubara

Energi masa depan - Nuklir atau Batubara Kalau Nuklir bukan untuk negara berkembang … kira-kira sumber energi apa yang paling cocok untuk ... thumbnail 1 summary
Energi masa depan - Nuklir atau Batubara

Kalau Nuklir bukan untuk negara berkembang … kira-kira sumber energi apa yang paling cocok untuk negara berkembang ? Apakah hanya batubara lengkap abu emisi dan asap hitamnya kah, atau memang selamanya negara berkembang tidak bisa (boleh) menjadi negara maju karena nasibnya ?

Kita tidak bisa hidup dengan batubara,tetapi tanpa batubara kita mati !(Coal Paradox)
Nuklir mungkin menyelamatkan dunia,tetapi sama bahayanya kalau memanfaatkannya !(Nuclear Paradox)

Kalau diproyeksikan kebutuhan listrik dunia maka dapat diperkirakan bahwa kebutuhan listrik 25 tahun mendatang meningkat seperempat dari yang ada saat ini. Kebutuhan ini dapat terlihat dari grafik disebelah ini terlihat dimana nantinya diperkirakan sumber energi nuklir tidak akan bertambah banyak. Sumber energi lainnya akan bervariasi mengisi sumber energi ini. Variasi pengisi sumber energi listrik dimasa depan termasuk mnyak bumi dan nuklir yang tidak berubah. Gas serta batubara diperkirakan akan mengisi kekurangan yang cukup besar ini. Energi terbarukan masih diimpikan untuk ikut berkiprah dalam memenuhi kebutuhan sumber energi. Sumber terbarukan ini saat ini masih selalu terbentur teknologi yang artinya biaya yang cukup tinggi dalam pengadaannya.
Gas alam dan batubara nantinya akan saling berebut mengisi kekosongan sumber energi ini hingga 25 tahun mendatang.
Hampir semua perusahaan minyak saat ini banyak yang beralih ingin mengembangkan cadangan-cadangan gas yang saat ini teknologi eksplorasi-eksploitasinya masih mirip dan bersamaan dengan eksplorasi minyakbumi. Sumber energi gas alam inipun dianggap memiliki risiko lingkungan yang jauuh lebih rendah dibanding batubara saingan beratnya

Emisi gas rumah kaca, lingkungan hidup

Dari kedua jenis energi yang saat ini ditakutkan efek rumahkacanya. Memang gas alam akan banyak kesempatan untuk dipakai namun jumlah cadangan gas alam tidak lebih bagus dari batubara yang cadangan terbuktinya saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan selama 200 tahun. Ya, batubara sempat ditinggalkan karena pasarannya kemarin sempat “diserobot” oleh minyak bumi yang menggantikannya sementara. Minyak bumi mungkin memang masih akan tetap penting hingga 15-20 tahun. Namun sepertinya sudah dipastikan tidak bakalan mampu memenuhi kebutuhan energi dunia.
Nuklir memiliki dampak emisi rumah kaca paling kecil diantara sumber-sumber energi lainnya. Namun ketakutan atau bahkan phobia pada kecelakaan serta limbah energi nuklir masih sangat menghantui. Energi ini memang masih dianggap membahayakan bahkan sangat membahayakan. Selain itu ongkos modal dalam pembiayaan pembangunannya sangat besar yang sangat sulit dilakukan oleh negara-negara berkembang. Dan pastinya termasuk Indonesia .